Efek Pandemi ke Wisata, Pemulihan Bakal Lebih Lama

Pinterest LinkedIn Tumblr +

Meskipun vaksinasi sudah dijalankan, namun IATA mengatakan akan ada pengunduran periode berakhirnya pandemi setahun dari prediksi awal, yaitu 2024. Tahun 2024 industri penerbangan menurut IATA baru bisa pulih dari pandemi COVID.

“Dampak terparah ini membuktikan bahwa COVID ini bukan main-main. COVID-19 juga membuat sejarah dunia berubah. Dunia ini tadinya krisis minyak, krisis teluk, sampai dengan SARS. Namun COVID berhasil menajamkan dampak terparah sampai 60 persen,” ungkapnya.

IATA juga menyampaikan bahwa 2020 itu tahun terburuk dalam sejarah. Banyak maskapai yang lambat laun gulung tikar, keadaan ini tidak memungkinkan mereka untuk menyimpan cash flow. Saat ini 60 persen penumpang internasional turun menurut air passenger traffic.

“Saya setuju sekali bahwa Indonesia diuntungkan dengan negara kepulauan dan tingkat penduduk yang cukup banyak. Mayoritasnya milenial yang mana keseimbangan mereka adalah kebutuhan untuk melakukan perjalanan,” kata Riza.

Biarpun negara lain lockdown, Indonesia sendiri masih memiliki punya short haul. Ini hal yang penting untuk menghidupkan pariwisata atau sementara ini bertahan.

“Market domestik ini menjanjikan, kalau melihat data dari ICAO, meskipun penerbangan internasional drop tapi secara lambat laun domestik market itu bertumbuh dan khususnya Asia-Pasifik,” ujarnya.

Ada dua negara yang punya karakteristik mirip dengan Indonesia yaitu Jepang dan China. China ini memiliki peningkatan traveler domestik cukup meningkat. China bahkan mengalahkan Amerika Utara dalam perjalanan domestik tahun 2020.

“China sedikit bahagia karena per bulan data pariwisatanya naik signifikan. Maskapai di sana memimpin d tahun 2020 yaitu 46 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya.

Jepang juga unik. Masing-masing prefektur melakukan pemasaran mandiri. Ini cukup menjanjikan dan membuat Jepang memiliki permintaan domestik yang cukup baik yaitu 48 persen di bulan Juni.

“Nah, hal yang cukup menjanjikan di Indonesia adalah market milenial. Menurut data di tahun 2013-2018 peningkatannya cukup pesat, 70 persen,” ungkapnya.

Riza mengatakan bahwa millennial ini adalah market yang memiliki jalan pikir yang agak berbeda. mereka lebih baik jalan-jalan, sosmednya hidup dengan bucket list dan tuntutan untuk bisa jalan-jalan ini bisa kita jadikan clue.

“Mendorong mereka jalan-jalan adalah mendorong mereka empati dengan orang lain. bagaimana membuat mereka nyaman di lingkungan yang tidak menyenangkan. empati menjadi hal yang perlu kita skenariokan,” jelasnya.

Setelah COVID-19 ini tren akan bergeser. Wisatawan akan lebih suka ke tempat yang anti kerumunan, outdoor. Faktor eksternal adalah perusahaan yang menunda melakukan perjalanan. Kecanggihan virtual meeting juga berperan. Bukan lagi work from home tapi work from anywhere.

“Kunci di masa pandemi, yaitu menjaga perasaan, menjaga kenyamanan. Kita harus menjaga keinginan mereka untuk tetap berwisata. Menghidupkan pariwisata juga meningkatkan imun bagi mereka yang kerja di bidang pariwisata,” tandasnya.

Share.

Leave A Reply