Sumbar yang Berbeda di Mata Mega

Pinterest LinkedIn Tumblr +

Sumatera Barat (Sumbar) yang saat ini berbeda di mata Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri. Apa yang membuat Megawati beranggapan Ranah Minangkabau itu berbeda?
Dulu, Sumatera Barat, kata Megawati, populer lantaran menghasilkan banyak tokoh ternama. Megawati lantas bertanya, kenapa Sumbar kini tak lagi populer?

“Dulu saya tahu banyak sekali tokoh dari Sumbar. Kenapa menurut saya sekarang kok kayanya tidak sepopuler dulu kah atau emang tidak ada produknya?” kata Megawati.

Hal itu disampaikan Megawati dalam peringatan HUT Ke-119 Proklamator RI Mohammad Hatta yang digelar oleh Badan Nasional Kebudayaan Pusat (BKNP) PDIP secara virtual, Kamis (12/8/2021). Bung Hatta adalah salah satu tokoh berasal dari Sumatera Bata.

Megawati pun mengenang saat dia berkunjung ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Sumbar pada saat itu dikenal dengan sikap gotong-royong, begitulah penuturan Megawati.

“Coba bayangkan tadi sudah ditampilkan siapa Bung Hatta dari masa kecil, saya pernah ke Bukittinggi, makanya sampai saya dapat gelar. Jadi dulu waktu saya kalau ke Sumbar saya melihat saya dapat merasakan sebuah apa ya, naluri kegotong-royongan gitu, karena tentu sangat kental tradisi keislamannya,” ujarnya.

Megawati lantas menyinggung falsafah kepemimpinan di Minangkabau. Mereka adalah pemimpin adat dengan sebutan niniak mamak, pemimpin agama yaitu alim ulama, dan kaum terpelajar atau cadiak pandai.

“Tapi juga ada saat bersamaan juga menempatkan peran tokoh adat yang disebut ninik mamak, alim ulama, kaum cadiak pandai ke semuanya merupakan kepemimpinan yang khas yang disebut Minangkabau bukannya istilah tapi seperti panggilan,” lanjut Megawati.

Megawati kemudian berpikir serta berdiskusi dengan berbagai tokoh. Dia menilai Sumatera Barat saat ini sudah mulai berbeda dengan yang dulu dia kenal.

“Kok malah ke sini saya mulai berpikir, saya sering berdiskusi karena di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), saya sebagai ketua dewan pengarah. Itu ada Buya Syafi’i, saya suka bertanya kepada beliau kenapa Sumbar yang dulu pernah saya kenal sepertinya sekarang sudah mulai berbeda,” ujarnya.

Megawati melanjutkan bahwa dia dan sang putri, Puan Maharani, pernah di-bully. Dia pun menjadi heran.

“Satu waktu pernah saya, Mbak Puan di-bully, saya sampai bingung kenapa saya di-bully ya, padahal dari yang saya mendapatkan sebuah pengertian itu kan ada Bundo Kandung. Jadi itu yang maksud saya… apakah itu sudah tidak berjalan lagi,” lanjut Megawati.

Puan Maharani sempat ramai dikritik karena menyinggung Sumatera Barat dan Pancasila. Saat ini Puan berharap Sumatera Barat mendukung negara Pancasila.

Kembali lagi pada Megawati. Ketum PDIP itu juga merasa heran, dia bingung ke mana tokoh-tokoh yang berasal dari Sumbar. Tokoh yang disebut dalam tigo tungku sajarangan, yakni alim ulama, ninik mamak dan cadiak pandai.

“Padahal Sumbar ketika setelah dari sebelum kemerdekaan sampai setelah merdeka katakanlah, sampai selesai juga, Bung Karno itu kan tokoh-tokohnya luar biasa. Pak Sutan Sjahrir, Pak Tan Malaka, Muhammad Yamin, Agus Salim, Rasuna Said, Buya Hamka, Moh Natsir, Abdul Muis, Rohana Kudus, dan masih banyak lagi. Belum lagi Imam Bonjol. Bayangkan sampai zaman bapak saya itu saya ingat, itu banyak lho,” ungkapnya.

“Nah, sekarang apa? Karena tadi tidak ada atau sudah bubarkah yang namanya tungku tigo sajarangan ini. Apakah hanya sebagai sebuah kenangan atau hanya simbol saja itu yang perlu menerangkan yang dari Sumbar?” imbuhnya.

Bagaimanakah ikatan keluarga Minang merespons pernyataan Megawati itu? Simak pada halaman selanjutnya.

Ketua Harian Ikatan Keluarga Minang (IKM) Andre Rosiade menjawab kritik Megawati. Andre Rosiade menegaskan bahwa Sumbar sangat mencintai NKRI dan Pancasila.

“Ibu Mega mengatakan bahwa masyarakat Minang, masyarakat Sumatera Barat ini jauh berubah, terutama soal semangat gotong-royong. Saya ingin menyampaikan kepada Bu Mega bahwa kami masyarakat Sumatera Barat, masyarakat Minang adalah masyarakat yang sangat mencintai NKRI. Kedua masyarakat yang sangat mengedepankan semangat gotong-royong dan nilai Pancasila,” kata Andre kepada wartawan, Kamis (12/8).

Andre Rosiade menyebut semangat gotong royong itu belum hilang dari masyarakat Minang. Dia mencontohkan bahwa warga Minang selalu mengirimkan bantuan kepada daerah yang dilanda bencana alam.

Perihal Puan Maharani dikritik, Andre Rosiade menyebut hal itu bukan tanpa dasar. Kritik itu mengemuka, kata Andre, lantaran warga Minang merasa kurang Pancasilais gegara pernyataan Puan.

“Bicara soal Mbak Puan kenapa kemarin ada kritik yang besar kepada Mbak Puan tahun lalu karena pernyataan Mbak Puan yang dianggap oleh masyarakat Minang bahwa Mbak Puan menyatakan masyarakat Minang kurang Pancasilais, ada kritik dari masyarakat Minang kepada Mbak Puan, itu saja penyebabnya,” kata dia.

Selain itu, Andre menegaskan bahwa warga Sumbar sangat menghormati para pemimpin. Dia menegaskan bahwa Sumbar akan menyambut meriah jika Jokowi berkunjung ke Ranah Minang.

“Jadi intinya kami masyarakat Minang adalah masyarakat yang sangat menjiwai semangat gotong-royong dan sangat mencintai NKRI dan sangat menjaga semangat nilai-nilai Pancasila,” sambungnya.

Share.

Leave A Reply